Iklan

Doping vs Pernapasan Dalam: Abu Siwah Ungkap Batas Tipis Prestasi dan Pelanggaran di Dunia Bela Diri

Syahrial
Selasa, 07 April 2026 | 14:45 WIB Last Updated 2026-04-07T07:45:06Z

      

Abu Siwah, Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) Muay Thai Aceh sekaligus Ketua Umum Dewan Pandekar Atjeh,.dok ist

 Aceh — Praktik doping dan teknik pernapasan dalam (deep breathing) kembali menjadi sorotan dalam dunia olahraga, khususnya cabang bela diri. Keduanya sama-sama berkaitan dengan peningkatan performa atlet, namun memiliki perbedaan mendasar dari sisi metode, dampak, hingga legalitas.


Penjelasan ini disampaikan oleh Abu Siwah, Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) Muay Thai Aceh sekaligus Ketua Umum Dewan Pandekar Atjeh, saat memberikan pembinaan kepada atlet di Jambo Silet Siwah Busoe, Sabtu malam, (3/4)

Doping vs Pernapasan Dalam

Menurut Abu Siwah, doping merupakan penggunaan zat terlarang untuk meningkatkan performa secara instan. Praktik ini dilarang keras oleh World Anti-Doping Agency karena melanggar prinsip sportivitas dan etika olahraga.

“Doping bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan atlet, bahkan bisa berujung pada kematian,” tegasnya.

Jenis doping yang kerap disalahgunakan antara lain steroid anabolik, stimulan, narkotika, hingga praktik manipulasi darah (blood doping) dan rekayasa genetik. Dampaknya pun serius, mulai dari hipertensi, gangguan jantung, kerusakan hati dan ginjal, hingga gangguan mental.

Sebaliknya, teknik pernapasan dalam atau deep breathing merupakan metode alami yang justru dianjurkan. Teknik ini membantu atlet mengatur suplai oksigen, meningkatkan daya tahan, serta menjaga fokus dan kestabilan emosi saat bertanding.

Manfaat Ilmiah Pernapasan Dalam 

Abu Siwah menjelaskan, latihan pernapasan dalam memiliki dampak positif secara fisiologis. Teknik ini mampu meningkatkan hormon dopamin (hormon kebahagiaan), menekan hormon kortisol (stres), serta merangsang produksi endorfin sebagai pereda nyeri alami.

“Latihan pernapasan dalam juga secara alami membantu meningkatkan adrenalin dan memberikan rasa nyaman bagi atlet saat menghadapi kompetisi ketat,” ujarnya.

Risiko dan Sanksi

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penggunaan doping tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berkonsekuensi hukum dalam dunia olahraga, seperti diskualifikasi hingga larangan bertanding.

Sebaliknya, atlet yang mengandalkan metode alami seperti pernapasan dalam akan memperoleh peningkatan performa yang lebih stabil, aman, dan berkelanjutan.

Ajakan Menjunjung Sportivitas

Abu Siwah menegaskan pentingnya kesadaran atlet untuk memilih metode latihan yang sehat dan sesuai aturan.

“Sebagai atlet, kita harus menjunjung tinggi sportivitas. Gunakan metode latihan yang benar dan alami, bukan cara instan seperti doping,” katanya.

Dengan pemahaman ini, para atlet bela diri di Aceh dan Indonesia secara umum diharapkan semakin bijak dalam meningkatkan kemampuan, tanpa mengorbankan kesehatan maupun integritas olahraga.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Doping vs Pernapasan Dalam: Abu Siwah Ungkap Batas Tipis Prestasi dan Pelanggaran di Dunia Bela Diri

Trending Now

Iklan