Iklan

Lhokseumawe Dorong Revolusi Data Desa, Wali Kota Tegaskan “Data Adalah Kekayaan Baru”

Syahrial
Selasa, 07 April 2026 | 14:49 WIB Last Updated 2026-04-07T07:49:27Z

 
Pemerintah Kota Lhokseumawe menegaskan komitmennya memperkuat tata kelola data hingga tingkat desa melalui program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik).foto/Rumohacehnews.dok/ist


Lhokseumawe--7 April 2026--Pemerintah Kota Lhokseumawe menegaskan komitmennya memperkuat tata kelola data hingga tingkat desa melalui program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Langkah ini dinilai strategis untuk memastikan kebijakan pembangunan berbasis data akurat, tepat sasaran, dan mampu menekan angka kemiskinan secara berkelanjutan.

Dalam sambutannya Sekda pada kegiatan sosialisasi dan pembinaan Desa Cantik 2026, Wali Kota Lhokseumawe menekankan bahwa era pembangunan modern menuntut kualitas data yang tinggi. “Hari ini, data bukan sekadar angka—data adalah kekayaan baru. Arah pembangunan yang tepat selalu berawal dari data yang valid,

” tegasnya.Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lhokseumawe ini menjadi bagian penting dalam implementasi kebijakan nasional Satu Data Indonesia. Pemerintah daerah menilai, penguatan data dari level gampong (desa) merupakan fondasi utama dalam merancang program pembangunan yang efektif.
Desa Jadi Ujung Tombak Pembangunan

Dalam arahannya, Sekda menegaskan perubahan paradigma pembangunan, di mana desa tidak lagi diposisikan sebagai objek, melainkan subjek utama. Desa menjadi garda terdepan dalam menyediakan data riil yang mencerminkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Program Desa Cantik, lanjutnya, memiliki tujuan jelas: meningkatkan kapasitas aparatur desa dalam mengelola data, mulai dari penyusunan monografi gampong hingga publikasi statistik berbasis digital.

“Ke depan, setiap gampong harus mampu menghadirkan data yang berkualitas, terintegrasi, bahkan memiliki website data sendiri. Ini bukan pilihan, tetapi kebutuhan,” ujarnya.
Kunci Sukses Sensus Ekonomi 2026

Program ini juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi Sensus Ekonomi 2026 yang akan dilaksanakan secara nasional. Pemerintah Kota Lhokseumawe menilai keberhasilan sensus sangat bergantung pada kesiapan data di tingkat desa.

Wali Kota secara khusus menaruh harapan besar kepada para agen statistik yang telah ditunjuk. Mereka diharapkan menjadi motor penggerak transformasi data di wilayah masing-masing, dengan dukungan penuh dari para keuchik (kepala desa).

Selain itu, para camat diinstruksikan untuk aktif memantau dan memastikan program berjalan sesuai target, serta menjalin koordinasi intensif dengan BPS sebagai pembina teknis.
Arah Baru: Bangun dari Bawah, Tekan Kemiskinan

Program Desa Cantik juga selaras dengan agenda nasional, khususnya dalam mendorong pembangunan dari desa sebagai strategi utama pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.

Dengan data yang akurat, pemerintah diyakini mampu merancang intervensi yang lebih tepat, mulai dari bantuan sosial, pengembangan UMKM, hingga perencanaan infrastruktur berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Disiplin dan Implementasi Jadi Kunci

Menutup sambutannya, Sekda mengingatkan seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dengan serius dan menerapkan hasil pembinaan di lapangan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi pada implementasi nyata di setiap gampong.

Langkah Lhokseumawe memperkuat data desa melalui program Desa Cantik menjadi contoh konkret transformasi tata kelola pemerintahan berbasis data di daerah. Jika dijalankan konsisten, model ini berpotensi menjadi rujukan nasional dalam membangun sistem statistik yang kuat dari akar rumput.  

“Diskusikan kendala, cari solusi, dan terapkan sistem pendataan yang baik saat kembali ke wilayah masing-masing. Masa depan pembangunan kita ditentukan dari kualitas data hari ini,” pungkasnya.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Lhokseumawe Dorong Revolusi Data Desa, Wali Kota Tegaskan “Data Adalah Kekayaan Baru”

Trending Now

Iklan