![]() |
| Bunda PAUD Kota Lhokseumawe, Yulinda Sayuti,foto.dok//hum |
Kegiatan ini dibuka oleh Bunda PAUD Kota Lhokseumawe, Yulinda Sayuti, sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat perlindungan anak, khususnya bagi mereka yang mengalami dampak psikologis pascabencana.
Dalam sambutannya, Yulinda menekankan bahwa penanganan trauma pada anak perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Menurutnya, dampak psikologis yang tidak tertangani dapat memengaruhi perkembangan mental, emosional, hingga sosial anak dalam jangka panjang.
“Pendampingan psikologis yang tepat diharapkan mampu membantu anak-anak kembali merasa aman dan percaya diri,” ujarnya.
Kegiatan ini juga melibatkan Forum Anak Lhokseumawe Kreatif (FALAK) guna mendorong partisipasi anak dalam proses pemulihan. Peserta terdiri dari anak-anak PAUD di Gampong Ujong Pacu dan Cot Trieng, dua wilayah yang terdampak banjir cukup parah pada tahun lalu.
Selama kegiatan, anak-anak diajak berinteraksi melalui pendekatan yang komunikatif dan menyenangkan. Sejumlah anak diberi ruang untuk berbagi pengalaman, yang menjadi bagian dari proses pemulihan emosional. Suasana kegiatan dibuat hangat melalui permainan dan aktivitas bersama guna membantu anak lebih rileks.
Trauma healing ini menghadirkan dua sesi utama, yakni psikoedukasi terkait trauma pascabencana serta praktik teknik relaksasi dan manajemen stres yang dipandu oleh tenaga konselor.
Kepala DP3AP2KB Kota Lhokseumawe, Salahuddin, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan layanan perlindungan anak berbasis wilayah terdampak bencana.
Ia menjelaskan, fokus kegiatan tidak hanya pada pemulihan anak, tetapi juga peningkatan kapasitas pendamping agar penanganan trauma dapat dilakukan secara berkelanjutan di tingkat masyarakat.
“Anak-anak di wilayah terdampak membutuhkan perhatian khusus. Karena itu, intervensi psikososial seperti ini menjadi penting untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal,” katanya.
Pemerintah Kota Lhokseumawe turut mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak.
Kegiatan ini diharapkan dapat membantu anak-anak pulih dari trauma, sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal sebagai generasi penerus.



